Sobat, kini saya berbagi cerita tentang usaha yang sedang saya jalani, mungkin sobat dapat memberi masukan atau saran.
Semenjak saya mengundurkan diri sebagai karyawan pabrik, saya mulai fokus mengelola usaha sendiri yang semula sampingan, alhamdulillah berjalan lancar, saya punya usaha di bidang video shooting dan photografi yang sudah keliatan hasilnya yang selama lebih dari 8 tahun saya rintis, sekarang saya dipercaya oleh beberapa tata rias untuk dokumentasi video photonya.
Sedikit demi sedikit saya sisihkan hasil usaha tersebut, keinginan saya untuk mempunyai usaha warnet akhirnya terwujud awal tahun 2012 lalu, bangunan toko 6x5 m saya bangun, untuk permulaan saya investasikan 10 Pc untuk warnet, semua saya kelola sendiri disamping usaha video photo. penghasilan dari warnet sebenarnya lumayan sehari rata2 200rban, untuk pengeluaran sebulan rata 1.5jt yaitu bayar speedy dan listrik. jadi bersih dapat 4.5jt. belum keuntungan jasa print, accesories.
Sabtu, 19 Januari 2013
Kamis, 10 Januari 2013
Memperbaiki CRT dengan CRT_Restorer
Hari gini menulis artikel tentang CRT restorer kok terasa malu-maluin ya, sebab kalau kita nggoogling akan kita temukan sudah banyak yang membahasnya di internet. Istilahnya restorer, rejuvinasi, nembak layar, dan apa lagi saya lupa.
Sesuai dengan namanya: CRT_Restorer, tentu tujuannya mengembalikan kondisi CRT yang sudah bermasalah ke kadaan semula, terutama yang dikarenakan 'ngupil' antara G1 dengan Katodanya. Kasus-kasus seperti kehilangan satu warna, salah satu warna terlalu dominan, remang-remang, gambar tipis, TV hitam putih bruwet (tidak fokus), dll seringkali bisa diatasi dengan penggunaan alat ini.
Tapi yang saya tulis ini bukan soal tips trik untuk mengajari pembaca karena saya pikir para pengunjung blog ini sudah lebih tahu daripada saya. Di sini saya cuma mau sekedar berbagi obrolan menceritakan pengalaman mempraktekkan membuat dan menggunakan pengetahuan yang saya dapat di internet tentang CRT restorer. Selain itu juga untuk memenuhi permintaan seorang sahabat pengunjung blog yang berkirim email meminta saya sharing tentang hal yang satu ini, dan juga untuk berbagi dengan teman fb-an.
Dari sekian banyak contoh CRT Restorer yang paling berkesan bagi saya adalah skema dari Pak Zic ini yang menurut saya bagus banget:
Saya merakitnya lebih sederhana menjadi begini:
Jika alat bikinan Pak Zic itu disebut CRT RESTORER maka hasil mencontoh yang saya rakit itu mestinya disebut didalam tanda kutip: "CRT Restorer", membacanya ce-er-te-restorer hehe... kenapa pake hehe? karena layak ditertawakan berhubung nggak becus.!! hehehe.... :)))
Daftar komponennya sbb:
Cara pakainya demikian:
Sesuai dengan namanya: CRT_Restorer, tentu tujuannya mengembalikan kondisi CRT yang sudah bermasalah ke kadaan semula, terutama yang dikarenakan 'ngupil' antara G1 dengan Katodanya. Kasus-kasus seperti kehilangan satu warna, salah satu warna terlalu dominan, remang-remang, gambar tipis, TV hitam putih bruwet (tidak fokus), dll seringkali bisa diatasi dengan penggunaan alat ini.
Tapi yang saya tulis ini bukan soal tips trik untuk mengajari pembaca karena saya pikir para pengunjung blog ini sudah lebih tahu daripada saya. Di sini saya cuma mau sekedar berbagi obrolan menceritakan pengalaman mempraktekkan membuat dan menggunakan pengetahuan yang saya dapat di internet tentang CRT restorer. Selain itu juga untuk memenuhi permintaan seorang sahabat pengunjung blog yang berkirim email meminta saya sharing tentang hal yang satu ini, dan juga untuk berbagi dengan teman fb-an.
Dari sekian banyak contoh CRT Restorer yang paling berkesan bagi saya adalah skema dari Pak Zic ini yang menurut saya bagus banget:
![]() |
| Gbr1: skema CRT RESTORER dari ZicElectronic |
Saya merakitnya lebih sederhana menjadi begini:
![]() |
| Gbr2: skema yang lebih sederhana |
![]() |
| Gbr3: hasil rakitannya kayak gini, gunanya untuk merestore CRT yang 'ngupil' |
Daftar komponennya sbb:
- elco 2,2u/350V untuk menyimpan muatan listrik yang akan digunakan untuk membakar/menghancurkan 'upil'. Saya pernah bereksperiman dengan ukuran yang lebih besar seperti 3,3u/450V, 4,7u/450V dan 10u/450V tetapi kemudian merasa bahwa yang paling nyaman itu ukuran 2,2u/450V. Mengapa 450V tidak 350V sesuai skema? Karena di toko terdekat dengan rumah saya yang 350V itu tidak ada, adanya 250V dan 450V.
- trafo 300 mA atau lebih, mau CT atau tidak terserah, tetapi kalau saya suka yang ada 7,5 volt dan 12 voltnya. Gunanya untuk menyediakan arus untuk memanaskan heater. Mengapa tidak 1A saja? Karena 300mA saja sudah cukup untuk menyalakan heater.
- Dioda yang mampu menyearahkan arus AC 220V dari jala-jala PLN, mau pakai 4 buah dioda dibuat bridge, atau 1 dioda yang sudah kemasan bridge, atau mau pakai 1 dioda aja cuma sekedar perata.... boleh-boleh saja. Fungsinya cuma untuk mengisi elco langsung dari listrik 220V.
- soket CRT bekas, dibongkar diambil colokannya saja. Nggak ada bekas pakai yang baru juga boleh.
- isolator untuk membungkus colokan bekas soket tsb, bisa pakai sedotan minuman, atau apa saja yang mungkin cocok. Kalau saya pakai potongan selongsong kabel flyback, kalau perlu tambah solasi, maksudnya biar nggak konslet atau bikin kesetrum.
- saklar push switch 2x6, penguncinya dilepas (diangkat) biar kalau ditekan balik lagi, tetangga saya bilang: dari cetit-cetit menjadi nyut-nyut.
- beberapa helai kabel untuk penghubung dari saklar ke CRT dan dari trafo ke saklar, panjangnya kira-kira aja, paling dari saklar ke colokan pin CRT cuma sekitar 50-60 cm saja.
- jack AC + kabel untuk colokan listriknya.
- Ohmmeter, biasanya pakai skala x1K.
- Sebaiknya masing-masing kabel itu dikasih nama biar lebih mudah memakainya, saya pakai solasi kertas saya tempelkan di masing-masing kabel lalu ditulisi: H1, H2, G1, K.
![]() |
| Gbr4: pin CRT TV warna 9 pin, 11 pin dan 7 pin. |
Cara pakainya demikian:
- Langkah pertama adalah mengecek masih bagus tidaknya CRT. Soket CRT TV dilepas lalu elektroda CRTnya ditest. Caranya adalah panasi heater dengan tegangan dari trafo, kalau TV warna pakai AC 7,5V, kalau TV hitam putih pakai 12V. Setelah heater menyala tunggu dulu beberapa saat sampai panas, biasanya setengah menit sudah bisa, lalu pakai ohmmeter x1K, probe hitam (+batre) tempelkan ke G1 dan probe merah (-batre) ke katoda (KB, KR, atau KG), mirip ngetest Dioda biasa, bedanya kalau CRT dipanasi dulu. Kalau jarum menyimpang jauh ke kanan menunjukkan kurang dari 10K berarti CRT masih baik dan tak perlu di-restore, tapi kalau nilai ohm-nya tinggi (lebih dari 10K) ada kemungkinan itu udah ngupil dan perlu di-restore. Jika sama sekali tak bergerak mungkin CRT memang sudah tidak bisa di-restore lagi.
- Jika langkah pertama menunjukkan perlunya CRT di-restore (ditembak) maka dilanjutkan dengan memasang colokan ke G1 dan Katoda. G1 terhubung ke kutub + elco (lewat saklar) dan Katoda terhubung ke - elco (juga lewat saklar).
- Saklar ditekan terus dilepaskan, karena penguncinya sudah dilepas tentu jadi mirip saklar klakson, tet...., tet..., tet.... Saat ditekan itu elco melepas muatannya di dalam leher CRT membakar 'upil' antara G1 dan Katoda, karenanya di dalam leher CRT ada kilatan api. Biasanya diulang menekannya beberapa kali: "jrett, jrett, jrett, jrett...."
- Setelah 'digituin' terus diukur lagi, karenanya colokan ke G1 dan Katoda dilepas dulu, diukur pakai Ohmmeter, ada perubahan nilai resistansinya nggak. Biasanya nilai resistansi yang semula ratusan kilo ohm menjadi turun hingga di bawah 10K. Jika sudah begitu berarti selesai, tinggal lepas colokan heaternya.
- Menunggu dingin ada kalanya perlu. Bersegera memasang kembali soket CRT TV dan langsung menyalakannya kadang-kadang berakibat sesuatu yang mengejutkan pada model tertentu, misalnya saat TV dinyalakan timbul "jretttt..." timbul bunga api di sekitar leher CRT, bagi pemula tentu bisa bikin nyali menciut. Kejadian ini pernah beberapa kali saya alami pada TV model tertentu. Nah, menunggu dingin beberapa saat bisa menjadi langkah antisipatif, setidak-tidaknya hati jadi siap jika ternyata malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
- Kebanyakan CRT 7 pin (leher kecil), 9 pin (leher besar), 11 pin (leher besar), dan CRT TV hitam putih yang sudah bermasalah bisa jadi bagus dan cling lagi. Saya belum pernah berhasil pada CRT TV Sony, juga pada beberapa TV China yang pakai tabung bekas komputer. Yang saat pertama ditest tidak menggerakkan jarum meter sama sekali biasanya juga tidak berhasil di-restore.
- Sebagai seorang pemula kadang masih bingung bagaimana menentukan mana yang pin G1, maklum nggak hafal-hafal, ini bisa pakai trik begini: setelah CRT dipanasi itu probe merah ohmmeter tempelkan ke salah satu Katoda, lalu tempelkan probe hitam ke pin-pin yang lain satu persatu. Mana yang bergerak itulah G1, (tetapi jika dibalik tidak bergerak), mirip mengukur Dioda (G1=Anoda, KB KR KG=Katoda).
Label:
Problem CRT,
Service TV,
TV
Lokasi:
Magelang, Indonesia
Rabu, 09 Januari 2013
Memulai Usaha Sampingan..
Sobat, kadang ketika kita kita melihat orang sukses dengan suatu bidang usaha kita cuma bilang..ah..itu khan keahliannya, ahh..dia khan modal nya kuat,..ah..saya bukan di bidang itu,..
Apa yang mereka kerjakan, sebenarnya kita juga bisa tergantung keinginan dan keseriusan kita melakukan itu, hanya orang pemalas yang yang mundur sebelum mencoba,..
coba saya bertanya " Apakah anda bisa mengelas besi, memperbaiki mobil, rumah, mengebor kilang minyak..???.. pasti anda menjawab ..ahh itu bukan bidang saya, saya hanya ahli mengetik, rakit komputer, saya tidak dapat bekerja di bidang itu...padahal mereka yang ahli di bidang itu sebelumnya sama seperti kita, tidak memahami pekerjaan mereka, tapi karena keinginan dan keseriusan yang menjadikan mereka ahli di bidangnya,..kenapa kita tidak..
Bersyukurlah jika anda sekarang masih bekerja, tapi anda jangan terlena dengan pekerjaan anda bagaimanapun hidup anda tidak hanya tergantung anda tapi perusahaan tempat anda bekerja,..bagaimana jika perusahaan anda melakukan efisiensi, bangkrut, atau anda masuk pensiun, sudah kah anda menyiapkan strategi anda jika itu terjadi.
Biasanya orang mulai membuka usaha sendiri ketika sudah mentok sudah tidak dapat pekerjaan lagi, uang hasil pesangon atau jaminan hari tua digunakan untuk modal awal.
Perlu diingat..segala sesuatu perlu proses, juga ketika anda buka usaha, tidak serta merta laris, usaha anda bertahap kadang ramai kadang sepi, ini yang perlu anda jaga.."konsitensi", tidak selamanya hasil tidak sesuai dengan kita harapkan, kebanyakan orang akan gugur satu per satu di tahapan ini, merasa tidak menguntungkan atau terus merugi akhirnya tutup, terlebih usaha tersebut sebagai sumber pokok kehidupan keluarga.
Maka saya sarankan, ketika anda masih bekerja mulailah berinvestasi dalam usaha yang sekira anda mampu menjalankanya, sehingga ketika anda berhenti kerja usaha anda sudah berkembang dan dana dari uang pensiun anda untuk ekspansi atau pengenbangan usaha yang sudah berjalan.
Apa yang mereka kerjakan, sebenarnya kita juga bisa tergantung keinginan dan keseriusan kita melakukan itu, hanya orang pemalas yang yang mundur sebelum mencoba,..
coba saya bertanya " Apakah anda bisa mengelas besi, memperbaiki mobil, rumah, mengebor kilang minyak..???.. pasti anda menjawab ..ahh itu bukan bidang saya, saya hanya ahli mengetik, rakit komputer, saya tidak dapat bekerja di bidang itu...padahal mereka yang ahli di bidang itu sebelumnya sama seperti kita, tidak memahami pekerjaan mereka, tapi karena keinginan dan keseriusan yang menjadikan mereka ahli di bidangnya,..kenapa kita tidak..
Bersyukurlah jika anda sekarang masih bekerja, tapi anda jangan terlena dengan pekerjaan anda bagaimanapun hidup anda tidak hanya tergantung anda tapi perusahaan tempat anda bekerja,..bagaimana jika perusahaan anda melakukan efisiensi, bangkrut, atau anda masuk pensiun, sudah kah anda menyiapkan strategi anda jika itu terjadi.
Biasanya orang mulai membuka usaha sendiri ketika sudah mentok sudah tidak dapat pekerjaan lagi, uang hasil pesangon atau jaminan hari tua digunakan untuk modal awal.
Perlu diingat..segala sesuatu perlu proses, juga ketika anda buka usaha, tidak serta merta laris, usaha anda bertahap kadang ramai kadang sepi, ini yang perlu anda jaga.."konsitensi", tidak selamanya hasil tidak sesuai dengan kita harapkan, kebanyakan orang akan gugur satu per satu di tahapan ini, merasa tidak menguntungkan atau terus merugi akhirnya tutup, terlebih usaha tersebut sebagai sumber pokok kehidupan keluarga.
Maka saya sarankan, ketika anda masih bekerja mulailah berinvestasi dalam usaha yang sekira anda mampu menjalankanya, sehingga ketika anda berhenti kerja usaha anda sudah berkembang dan dana dari uang pensiun anda untuk ekspansi atau pengenbangan usaha yang sudah berjalan.
Rabu, 31 Oktober 2012
TV LG 29FU3RL tak ada warna merah
HP berdering tanda SMS masuk, saya buka ternyata isinya permintaan servis TV (panggilan) dari seseorang yang tinggal di seberang gunung. Melalui tanya jawab SMS akhirnya sepakat saya datang ke sana untuk servis TV 29 inch merk LG dengan keluhan warna tidak normal.
Di sana setelah basa-basi sebentar saya mulai servis dengan melihat TVnya yang warnanya tidak normal: tak ada warna merah, bibir bergincu jadi biru lebam seperti habis kena pukul, warna dasar jadi kuning. Setelah itu persiapkan suasana kerja: atur meja, kursi, penerangan, colokan listrik, dsb.
Sang pemilik saya minta bercerita tentang sejarah kerusakan. Ternyata TV telah diservis seorang teknisi dan gagal..... wah, kalau yang teknisi aja gagal apalagi saya yang cuma hobbyst.... saya jadi agak ngeper menghadapi ini TV.
TV saya bongkar, nampak berdebu, karenanya saya bersihkan pakai kuas dan hairdryer. TV ini berukuran 29 inchi, merk LG, model slim, tulisan depan PEARL BLACK, seri di belakangnya 29FU3RL, ICnya nampak gede dan rumit: TDA12011PQ/N1F00. RGB Out di belakang CRT pakai IC TDA6107.
TV saya nyalakan lalu cek tegangan RGB di katoda CRT, rasanya tak ada kelainan, lalu cek tegangan input RGBnya pada soket kabel penghubung PCB RGB out dengan IC chroma: sepertinya juga normal-normal saja karena ketiganya (RGB) nampak seimbang.
TV saya matikan, socket CRT saya lepas. CRT TV ini leher besar dengan 9 pin. Saya gunakan CRT restorer rakitan sendiri untuk ngecek itu CRT. Heater dipanasi dengan tegangan AC 7,5V, lalu antara G1 dengan Katoda diukur dengan ohmmeter x1K, caranya seperti kalau mengukur Dioda (probe hitam di G1 dan probe merah di katoda). CRT yang baik biasanya nilai ohmnya kurang dari 10K. Di situ saya dapati KG dan KB normal, tetapi KR resistansinya tinggi. Alhamdulillah ketemu masalahnya di sini. Karena itu lanjutkan saja dengan memasang probe CRT restorer ke G1 dan KR, lalu switchnya ditekan sekali, dua kali, tiga kali...... di dalam leher tabung CRT muncul bunga api tiap kali switch ditekan. Setelah itu kedua probe tadi dilepas dan kemudian antara G1 dan KR diukur lagi. Naah, sekarang resistansinya jadi normal yaitu di bawah 10K. Tugas CRT restorer selesai. Istirahat sebentar tunggu CRT dingin lagi, lalu socketnya dipasang lagi. TV dinyalakan....... dag dig dug dada berdebar...... jadi nggak ya? Ternyata warna merah sudah ada!!! alhamdulillah.
Tapi sebentar, kok warnanya kurang bagus ya, terlalu hijau gitu, kalau setelan warna dikurangi hingga 0 harusnya kan hitam putih, tapi ini semu ijo. Saya amati lagi bagian RGB, cuma nampak bekas solderan baru, tegangannya pun tak terasa adanya kelainan. Saya tanya pemilik apakah IC tersebut (TDA6107) sudah diganti, dan ternyata ya. Katanya teknisi yang nyervis dulu menyatakan bahwa IC tersebut rusak lalu dicarikan di toko, terus diganti, tetapi keluhan tidak hilang, karena itu IC chroma (TDA12011PQ/N1F00) divonis rusak, berhubung IC tersebut nampak demikian rumit dan terkesan mahal maka sang teknisi menyarankan agar ganti mesin saja............
Hmmm.... saya manggut-manggut dengar ceritanya. Saya coba atur setelan warna melalui service mode. Untuk masuk service mode caranya dengan menekan MENU di remote dan MENU di panel secara simultan. Pilihan settingan pun muncul di layar. Tapi saya ubah-ubah nilai RGB kok tak ada perubahan apa-apa. Bingung juga saya. Untuk menyimpan settingan pakai tombol OK, untuk keluar matikan pakai POWER.
Saya coba tanyakan apakah IC yang lama (TDA6107) masih ada, dan ternyata masih ada. IC diambil dan diserahkan pada saya. Saya coba ganti IC RGB (TDA6107) dengan IC tersebut. Setelah itu TV dihidupkan, alhamdulillah ternyata gambarnya lebih baik dari tadi, lebih jelas, lebih detil dan warna lebih bagus, jadi IC yang lama itu masih baik tidak rusak. Saya coba masuk service mode lagi dan coba mengubah nilai RGB, ternyata normal karena level warna bisa berubah sesuai perubahan angka. Wah, ternyata sama-sama TDA6107 tapi beda hasilnya. Saya perhatikan yang asli TDA6107AJF/N1 sedang yang dari toko TDA6107JF !!!! Rupanya IC TDA6107JF itu tak dapat digunakan untuk mengganti TDA6107AJF/N1.
Saya senang, yang punya senang. TV ditutup dan ditest selama sekitar setengah jam sambil ngobrol dan minum-minum. Setelah semua urusan administrasi-nya selesai saya pulang...... (administrasi = ada anggaran buat bini beli terasi), sambil menyusuri jalan itu saya berpikir seandainya saya menjadi teknisi yang gagal itu..... wah..... saya mesti berempati..... kegagalan seperti itu bisa berakibat memburuknya citra seorang teknisi di mata konsumen dan dapat menjadi pengalaman buruk dalam berbisnis, padahal itu hanyalah kebetulan belaka..... sungguh, walau dia gagal dan saya berhasil tetapi tidaklah berarti bahwa saya lebih baik dari dia. Gembira di atas duka orang lain tentu bukan hal yang bagus.... Saya lebih suka jika antar-teknisi itu saling membantu untuk mencapai keberhasilan dalam menghadapi tantangan, bukan saling menjatuhkan.... dan saya bukan seorang teknisi profesional.... saya cuma seorang penggemar utak-atik teknik....., karena itu buat mas teknisi yang saya maksud di sini ini jika kebetulan Anda baca ini artikel... saya mohon maaf... ini suatu kejadian 'kebetulan' belaka.
Di sana setelah basa-basi sebentar saya mulai servis dengan melihat TVnya yang warnanya tidak normal: tak ada warna merah, bibir bergincu jadi biru lebam seperti habis kena pukul, warna dasar jadi kuning. Setelah itu persiapkan suasana kerja: atur meja, kursi, penerangan, colokan listrik, dsb.
Sang pemilik saya minta bercerita tentang sejarah kerusakan. Ternyata TV telah diservis seorang teknisi dan gagal..... wah, kalau yang teknisi aja gagal apalagi saya yang cuma hobbyst.... saya jadi agak ngeper menghadapi ini TV.
![]() |
| Gbr 1: TV LG 29FU3RL |
TV saya nyalakan lalu cek tegangan RGB di katoda CRT, rasanya tak ada kelainan, lalu cek tegangan input RGBnya pada soket kabel penghubung PCB RGB out dengan IC chroma: sepertinya juga normal-normal saja karena ketiganya (RGB) nampak seimbang.
![]() |
| Gbr 2: CRT Restorer rakitan sendiri |
Tapi sebentar, kok warnanya kurang bagus ya, terlalu hijau gitu, kalau setelan warna dikurangi hingga 0 harusnya kan hitam putih, tapi ini semu ijo. Saya amati lagi bagian RGB, cuma nampak bekas solderan baru, tegangannya pun tak terasa adanya kelainan. Saya tanya pemilik apakah IC tersebut (TDA6107) sudah diganti, dan ternyata ya. Katanya teknisi yang nyervis dulu menyatakan bahwa IC tersebut rusak lalu dicarikan di toko, terus diganti, tetapi keluhan tidak hilang, karena itu IC chroma (TDA12011PQ/N1F00) divonis rusak, berhubung IC tersebut nampak demikian rumit dan terkesan mahal maka sang teknisi menyarankan agar ganti mesin saja............
Hmmm.... saya manggut-manggut dengar ceritanya. Saya coba atur setelan warna melalui service mode. Untuk masuk service mode caranya dengan menekan MENU di remote dan MENU di panel secara simultan. Pilihan settingan pun muncul di layar. Tapi saya ubah-ubah nilai RGB kok tak ada perubahan apa-apa. Bingung juga saya. Untuk menyimpan settingan pakai tombol OK, untuk keluar matikan pakai POWER.
Saya coba tanyakan apakah IC yang lama (TDA6107) masih ada, dan ternyata masih ada. IC diambil dan diserahkan pada saya. Saya coba ganti IC RGB (TDA6107) dengan IC tersebut. Setelah itu TV dihidupkan, alhamdulillah ternyata gambarnya lebih baik dari tadi, lebih jelas, lebih detil dan warna lebih bagus, jadi IC yang lama itu masih baik tidak rusak. Saya coba masuk service mode lagi dan coba mengubah nilai RGB, ternyata normal karena level warna bisa berubah sesuai perubahan angka. Wah, ternyata sama-sama TDA6107 tapi beda hasilnya. Saya perhatikan yang asli TDA6107AJF/N1 sedang yang dari toko TDA6107JF !!!! Rupanya IC TDA6107JF itu tak dapat digunakan untuk mengganti TDA6107AJF/N1.
Saya senang, yang punya senang. TV ditutup dan ditest selama sekitar setengah jam sambil ngobrol dan minum-minum. Setelah semua urusan administrasi-nya selesai saya pulang...... (administrasi = ada anggaran buat bini beli terasi), sambil menyusuri jalan itu saya berpikir seandainya saya menjadi teknisi yang gagal itu..... wah..... saya mesti berempati..... kegagalan seperti itu bisa berakibat memburuknya citra seorang teknisi di mata konsumen dan dapat menjadi pengalaman buruk dalam berbisnis, padahal itu hanyalah kebetulan belaka..... sungguh, walau dia gagal dan saya berhasil tetapi tidaklah berarti bahwa saya lebih baik dari dia. Gembira di atas duka orang lain tentu bukan hal yang bagus.... Saya lebih suka jika antar-teknisi itu saling membantu untuk mencapai keberhasilan dalam menghadapi tantangan, bukan saling menjatuhkan.... dan saya bukan seorang teknisi profesional.... saya cuma seorang penggemar utak-atik teknik....., karena itu buat mas teknisi yang saya maksud di sini ini jika kebetulan Anda baca ini artikel... saya mohon maaf... ini suatu kejadian 'kebetulan' belaka.
Label:
Problem CRT,
Servis TV LG,
story
Lokasi:
Magelang, Indonesia
Sabtu, 06 Oktober 2012
DVD loading terus
Saat main ke rumah tetangga mendadak saja saya disodori sebuah DVD yang bermasalah. Merk dan serinya saya lupa, tapi itu jelas DVD China, walau begitu sempat pula setelah normal saya foto pakai hp. Dihadapkan problem saat tidak bawa alat apapun... lha wong saya ke situ cuma mau main.... tapi berhubung instink ntrithik saya suka kumat kalau lihat barang begituan ya mau aja. Saya minta alat yang ada, cuma ada sebuah obeng plus, 2 helai kabel sepanjang sekitar setengah meter, sebuah pisau kecil (pemes) yang biasa buat nyisir menyan (karena dia tukang udud klembak menyan), dan lepek (tatakan gelas) tempat minyak kelapa yang habis buat kerokan beserta koin lima ratusan yang udah ijo kena dakinya kaleee.
DVD kalau dipakai buat muter VCD di TVnya cuma ada layar biru bertuliskan mereknya serta tulisan LOADING......, walau ditunggu sampai seperempat jam juga tetap seperti itu, tapi kalau tanpa kaset segera saja NO DISC. Apa ya masalahnya?
Semula saya pikir motornya sudah mulai soak karena putaran kasetnya sepertinya kurang cepat, karenanya konektor catu daya dan konektor motor pemutar kaset saya lepas, lalu dengan 2 helai kabel tersebut motor pemutar kasetnya saya kagetin dengan tegangan 12 Volt dari power supply, setelah itu pasang lagi dan dicoba, eh ternyata sama saja, memang putaran kaset jadi lebih cepat dari tadi, tetapi masih tetap LOADING terus.
Saya coba periksa optiknya, dengan obeng plus tadi dudukan optik dilepas, pengunci roda gigi penggerak optik dilepas pakai pisau, lalu as optik dilepas dengan melepas satu baut di sudut yang ada di bawah lubang, sesuai teori ketiga baut yang lain jangan diutik-utik. Setelah terlepas..... naaah ketemu biang keroknya, optik tersebut macet, seret susah digeser pada asnya. Ternyata asnya karatan, jadi gimana ya kalau sekarang gantian asnya yang dikeroki. As saya bersihkan pakai koin yang habis buat kerokan tadi sambil diminyaki pakai minyak kelapa hehe.... setelah bersih dan licin lalu dipasang lagi. Ternyata jreng... eng...ing... eeengg... DVD jadi lancar lagi.
Yang punya senang, terus tanya tipsnya gimana biar awet nggak karatan lagi. Berhubung saya tak tahu jawabnya.... maka saya nasehati aja.... kalau ingin DVDnya awet gak cepat rusak ya jangan sekali-kali dipakai buat muter VCD porno....
DVD kalau dipakai buat muter VCD di TVnya cuma ada layar biru bertuliskan mereknya serta tulisan LOADING......, walau ditunggu sampai seperempat jam juga tetap seperti itu, tapi kalau tanpa kaset segera saja NO DISC. Apa ya masalahnya?
Semula saya pikir motornya sudah mulai soak karena putaran kasetnya sepertinya kurang cepat, karenanya konektor catu daya dan konektor motor pemutar kaset saya lepas, lalu dengan 2 helai kabel tersebut motor pemutar kasetnya saya kagetin dengan tegangan 12 Volt dari power supply, setelah itu pasang lagi dan dicoba, eh ternyata sama saja, memang putaran kaset jadi lebih cepat dari tadi, tetapi masih tetap LOADING terus.
Saya coba periksa optiknya, dengan obeng plus tadi dudukan optik dilepas, pengunci roda gigi penggerak optik dilepas pakai pisau, lalu as optik dilepas dengan melepas satu baut di sudut yang ada di bawah lubang, sesuai teori ketiga baut yang lain jangan diutik-utik. Setelah terlepas..... naaah ketemu biang keroknya, optik tersebut macet, seret susah digeser pada asnya. Ternyata asnya karatan, jadi gimana ya kalau sekarang gantian asnya yang dikeroki. As saya bersihkan pakai koin yang habis buat kerokan tadi sambil diminyaki pakai minyak kelapa hehe.... setelah bersih dan licin lalu dipasang lagi. Ternyata jreng... eng...ing... eeengg... DVD jadi lancar lagi.
Yang punya senang, terus tanya tipsnya gimana biar awet nggak karatan lagi. Berhubung saya tak tahu jawabnya.... maka saya nasehati aja.... kalau ingin DVDnya awet gak cepat rusak ya jangan sekali-kali dipakai buat muter VCD porno....
Jumat, 14 September 2012
TV Panasonic TC-14S15M hidupnya lama
Pengalaman pusing-pusing asyik dengan TV Panasonic TC-14S15M, kalau dihidupkan menyala biasa sebentar sekitar setengah menit sampai 3 menit, lalu di mesinnya keluar bunyi crrrrrttt..... gambar menyempit kiri kanan, terus pet.. mati, tetapi lampu indikatornya tetap nyala (mati seperti standby tetapi dipencet-pencet tombol panel maupun remotnya tetap tidak mau hidup). Jika dimatikan lalu dinyalakan lagi seperti itu lagi. Kalau keadaan mati standby itu dibiarkan saja lama-lama TV menyala sendiri dengan normal, walau ditonton seharian juga normal, tetapi waktu tunggu dari pet hingga menyala lagi itu tidak tentu, kadang 10 menit sudah nyala, kadang hingga berjam-jam baru nyala, karena itu yang empunya bilang 'TV-ne uripe suwi' (=TVnya hidupnya lama).
Data TV ini: IC-nya M52770ASP (chroma, sinkronisasi, IF, AGC, dll), MN1871681TFH (program), 24C04 (EEPROM), AN5071, LA7840 (vertikal), LA4289 (audio), TR H-out tidak pakai pendingin.
Saya perbaiki dulu semua solderan, ternyata belum berhasil. Lalu coba ganti beberapa elco yang kelihatannya sudah layak diganti, ternyata belum berhasil juga. Lalu coba cek tegangan-tegangannya baik saat normal maupun saat mati standby, kesimpulan mengarah ke IC M52770ASP. Dengan hairdryer saya coba panasi IC tersebut, ternyata waktu tunggu nyala TV bisa dipersingkat dengan memanasi IC, jadi kesimpulannya TV bisa menyala normal jika IC M52770ASP-nya sudah panas.
IC lalu saya ganti, ternyata betul, penyakitnya langsung hilang, tak ada lagi gejala seperti di atas. Tapi nanti dulu, sepertinya ada yang janggal, gambarnya jadi kebesaran.... logo stasiun TVnya ada yang jadi mingslep terpotong. Saya cek tegangan-tegangannya, sepertinya tak ada kelainan. Karena penasaran IC M52770ASP-nya saya lepas untuk mencoba IC yang lama. Karena bongkar pasang tersebut beberapa jalur PCBnya sampai ada yang terkelupas. Ternyata kalau pakai IC yang lama gambarnya normal. Ganti lagi dengan IC yang baru... gambar jadi kebesaran lagi.
Untuk mengatasi gambar yang kebesaran itu saya tambahkan saja kapasitas C yang terhubung dengan kumparan defleksi horisontal, yang tadinya 684/400V menjadi 105/400V. Ukuran kiri kanan gambar langsung normal tetapi ukuran atas bawah masih terlalu jangkung. Karena itu lalu masuk ke servis mode, caranya volume pada posisi minimal (0), taruh sleep pada 30 menit, tekan Display, tekan display lagi ditahan sambil tekan VolDown di panel, di layar muncul CHK, tombol 1 dan 2 di remote untuk memilih halaman/grup settingan, 3 dan 4 memilih item, tampilan di layar ada CHK, CHK2, CHK3, tombol VolUp/Down untuk mengubah nilai. Masuk ke CHK3 dan sesuaikan nilai VH. Tekan Normal di remot untuk keluar mode servis. Tinggal diuji dengan dinyalakan berjam-jam sambil ditonton dan digunakan sebagai alat bantu servis pasien berikutnya yaitu VCD...........
Data TV ini: IC-nya M52770ASP (chroma, sinkronisasi, IF, AGC, dll), MN1871681TFH (program), 24C04 (EEPROM), AN5071, LA7840 (vertikal), LA4289 (audio), TR H-out tidak pakai pendingin.
Saya perbaiki dulu semua solderan, ternyata belum berhasil. Lalu coba ganti beberapa elco yang kelihatannya sudah layak diganti, ternyata belum berhasil juga. Lalu coba cek tegangan-tegangannya baik saat normal maupun saat mati standby, kesimpulan mengarah ke IC M52770ASP. Dengan hairdryer saya coba panasi IC tersebut, ternyata waktu tunggu nyala TV bisa dipersingkat dengan memanasi IC, jadi kesimpulannya TV bisa menyala normal jika IC M52770ASP-nya sudah panas.
IC lalu saya ganti, ternyata betul, penyakitnya langsung hilang, tak ada lagi gejala seperti di atas. Tapi nanti dulu, sepertinya ada yang janggal, gambarnya jadi kebesaran.... logo stasiun TVnya ada yang jadi mingslep terpotong. Saya cek tegangan-tegangannya, sepertinya tak ada kelainan. Karena penasaran IC M52770ASP-nya saya lepas untuk mencoba IC yang lama. Karena bongkar pasang tersebut beberapa jalur PCBnya sampai ada yang terkelupas. Ternyata kalau pakai IC yang lama gambarnya normal. Ganti lagi dengan IC yang baru... gambar jadi kebesaran lagi.
Untuk mengatasi gambar yang kebesaran itu saya tambahkan saja kapasitas C yang terhubung dengan kumparan defleksi horisontal, yang tadinya 684/400V menjadi 105/400V. Ukuran kiri kanan gambar langsung normal tetapi ukuran atas bawah masih terlalu jangkung. Karena itu lalu masuk ke servis mode, caranya volume pada posisi minimal (0), taruh sleep pada 30 menit, tekan Display, tekan display lagi ditahan sambil tekan VolDown di panel, di layar muncul CHK, tombol 1 dan 2 di remote untuk memilih halaman/grup settingan, 3 dan 4 memilih item, tampilan di layar ada CHK, CHK2, CHK3, tombol VolUp/Down untuk mengubah nilai. Masuk ke CHK3 dan sesuaikan nilai VH. Tekan Normal di remot untuk keluar mode servis. Tinggal diuji dengan dinyalakan berjam-jam sambil ditonton dan digunakan sebagai alat bantu servis pasien berikutnya yaitu VCD...........
Kamis, 12 Juli 2012
Artikel tak berjudul
Tak ada judulnya, tak usah dibaca ya..... nggak penting kok.......... tidak dianjurkan untuk diikuti.....
Gbr 1 adalah skema power amplifier OCL 150 Watt yang populer dan banyak terdapat di pasaran. Variannya lumayan banyak, ada OCL 150W stereo, OCL 150W mono, OCL 300W, Audimaster 300-1000Watt, berbagai model kit Speaker Aktif, dll. Cukup bagus bagi pemula, tetapi banyak yang mengeluh kecewa jika digunakan untuk hal-hal penting: cepat panas, mudah rusak, kalau untuk pidato/nyanyi/rebana/karaoke suaranya jelek, kurang los, bikin malu tukang sound-nya, dsb.
Gbr 2: bagian-bagian yang dihilangkan untuk eksperimen, yang komponen dicabut (tak dipasang), yang jalur PCB dipotong.
Gbr 3 adalah sekedar modifikasi setelah terlanjur punya, daripada bikin kesal atau bikin malu saat dipakai di acara-acara pertemuan ya mending dimodif, pengalaman saya: suara jadi lebih 'lepas' dan jelas, relatif lebih dingin, lebih tahan konsletan kabel speaker, hati lebih tenang saat dipakai di tempat tetangga, dan pokoknya gitu lah........
![]() |
| Gbr 1: skema ampli OCL 150Watt |
![]() |
| Gbr 2 |
![]() |
| Gbr 3 |
Gbr 2: bagian-bagian yang dihilangkan untuk eksperimen, yang komponen dicabut (tak dipasang), yang jalur PCB dipotong.
Gbr 3 adalah sekedar modifikasi setelah terlanjur punya, daripada bikin kesal atau bikin malu saat dipakai di acara-acara pertemuan ya mending dimodif, pengalaman saya: suara jadi lebih 'lepas' dan jelas, relatif lebih dingin, lebih tahan konsletan kabel speaker, hati lebih tenang saat dipakai di tempat tetangga, dan pokoknya gitu lah........
Langganan:
Postingan (Atom)










